Sabtu, 12 Juni 2010

Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW)

BAB I
PENDAHULUAN
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW)
Adalah pecahnya selaput berisi cairan ketuban yang terjadi 1 jam atau lebih sebelum terjadinya kontraksi. Dulu, jika terjadi KPSW selalu dilakukan tindakan untuk segera melahirkan bayi guna mencegah infeksi yang bisa terjadi pada bayi maupun ibunya. Tetapi pendekatan ini sudah tidak perlu dilakukan lagi karena resiko terjadinya infeksi bisa dikurangi dengan mengurangi frekuensi pemeriksaan dalam 1 kali pemeriksaan dengan bantuan spekulum bisa membantu dokter dalam memastikan pecahnya selaput ketuban, memperkirakan pembukaan serviks (leher rahim) dan mengambil contoh cairan ketubah dari vagina. Jika hasil analisa cairan ketuban menunjukkan bahwa paru-paru bayi sudah cukup matang, maka dilakukan induksi persalinan (tindakan untuk memulai proses persalinan) dan bayi dilahirkan.
Jika paru-paru bayi belum matang, persalinan ditunda sampai paru-paru bayi matang.Pada 50% kasus, persalinan bisa ditunda hanya dengan melakukan tirah baring dan mendapatkan cairan infus; beberapa kasus lainnya memerlukan obat yang bisa mencegah kontraksi rahim (misalnya magnesium sulfat yang diberikan melalui infus, suntikan atau tablet terbutalin dan kadang diberikan ritodrin melalui infus). Ibu dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring, tetapi masih diperbolehkan ke kamar mandi. Suhu tubuh dan denyut nadinya diukur 2 kali/hari. Peningkatan suhu tubuh bisa merupakan pertanda terjadinya infeksi. Jika terjadi infeksi, dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan. Jika cairan ketuban tidak keluar lagi dan kontraksi berhenti, ibu diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi tetap menjalani tirah baring dan memeriksakan dirinya 1 kali/minggu.

BAB II
PEMBAHASAN
Ketuban pecah dini atau ketuban pecah sebelum waktunya adalah robeknya selaput korioamniaon dalam kehamilan (sebelum onset persalinan berlangsung).
Ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) atau ketuban pecah prematur (KPP) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina sebelum proses persalinan.
Ketuban pecah prematur yaitu pecahnya membran khorioamniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu atau disebut juga Premature Rupture Of Membrane atau Prelabour Rupture Of Membrane (PROM).
Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorioamniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane atau Preterm Prelabour Rupture Of Membrane (PPROM)
Insiden
PROM : 6-19% kehamilan
PPROM : 2% kehamilan
Etiologi
 Penyebab dari KPD tidak atau masih belum diketahui secara jelas maka usaha preventif tidak dapat dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi.
 Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD antara lain :
• Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal
• Inkompetensi serviks
• Infeksi vagina/serviks
• Kehamilan ganda
• Polihidramnion
• Trauma
• Distensi uteri
• Stress maternal
• Stress fetal
• Infeksi
• Serviks yang pendek
• Prosedur medis
• Malpresentasi
• Pada banyak kasus belum diketahui

Diagnosa
• Riwayat pasien/anamnessa
• Kehamilan < 20 minggu • Pemeriksaan dengan speculum → cairan • Nitrazine test →alkali • Nile test → mancampur cairan dengan nile blue → orange • Ferning → satu tetes diteteskan pada slide → dikeringkan → periksa dengan mikroskop → sodium pada liquor → mengkristal setelah kering (pola ferning seperti bunga kol) Secara klinik diagnosa ketuban pecah dini tidak sukar dibuat anamnesa pada klien dengan keluarnya air seperti kencing dengan tanda-tanda yang khas sudah dapat menilai itu mengarah ke ketuban pecah dini. Untuk menentukan betul tidaknya ketuban pecah dini bisa dilakukan dengan cara : • Adanya cairan yang berisi mekonium (kotoran janin), verniks kaseosa (lemak putih) rambut lanugo atau (bulu-bulu halus) bila telah terinfeksi bau • Pemeriksaan inspekulo, lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servikalis pada bagian yang sudah pecah, atau terdapat cairan ketuban pada forniks posterior • USG : volume cairan amnion berkurang/oligohidramnion • Terdapat infeksi genital (sistemik) • Gejala chorioamnionitis Maternal : Demam (dan takikardi), uterine tenderness, cairan amnion yang keruh dan berbau, leukositosis (peningkatan sel darah putih) meninggi, leukosit esterase (LEA) meningkat, kultur darah/urin. Fetal : Takikardi, kardiotokografi, profilbiofisik, volume cairan ketuban berkurang. Cairan Amnion : Tes cairan amnion, diantaranya dengan kultur/gram stain, fetal fibronectin, glukosa, leukosit esterase (LEA) dan sitokin. Jika terjadi chorioamnionitis maka angka mortalitas neonatal 4x lebih besar, angka respiratory distress, neonatal sepsis dan pardarahan intraventrikuler 3x lebih besar. • Dilakukan tes valsava, tes nitrazin dan tes fern Normal pH cairan vagina 4,5 - 5,5 dan normal pH cairan amnion 7,0 - 7,5 • Dilakukan uji kertas lakmus/nitrazine test Jadi biru (basa) : air ketuban Jadi merah (asam) : air kencing Prognosis/komplikasi Adapun pengaruh ketuban pecah dini terhadap ibu dan janin adalah :  Prognosis ibu • Infeksi intrapartal/dalam persalinan Jika terjadi infeksi dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas • Infeksi puerperalis/ masa nifas • Dry labour/Partus lama • Perdarahan post partum • Meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC) • Morbiditas dan mortalitas maternal • Prolaps tali pusat • Uterus sangat menempel ke fetus • Chorionamnioitis dan sepsis  Prognosis janin • Prematuritas dan komplikasinya Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya adalah respiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem, retinopathy of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis, brain disorder (and risk of cerebral palsy), hyperbilirubinemia, anemia, sepsis. • Prolaps funiculli/ penurunan tali pusat (anoksia) • Hipoksia dan Asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi) Mengakibatkan kompresi tali pusat, prolaps uteri, dry labour/pertus lama, apgar score rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial, renal failure, respiratory distress. • Sindrom deformitas janin Terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya terjadi hipoplasia paru, deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT) • Morbiditas dan mortalitas perinatal Diagnosis Banding • Fistula vsikovaginal dengan kehamilan • Stress inkonentia Pengobatan • Konservatif → jika tidak ada penyulit (ibu&bayi) pada umur kehamilan 28 – 36 minggu, dirawat di Rs • Aktif →umur kehamilan 20-28 minggu dan > 37 minggu, ada tanda infeksi, timbulnya tanda persalinan, gawat janin
Asuhan Di Rumah Sakit
• Riwayat yang akurat
• Pemeriksaan fisik
• Menkaji data yg nendukung
• Pengobatan sesuai protap
Pengobatan Di Klinik
• Anamnesa (waktu pecah, banyaknya, pastikan bukan urine, cairan terus menerus
• Observasi adanya kontraksi
• Pemeriksaan urine midstreem
• Pencegahan infeksi→ suhu → 38 derajat, nyeri pada rahim, sekret vagina vurulens, janin takhikardi
• Berikan support
• Pemberian antibiotik
• NST
• Pemberian steroid untuk pematangan paru
• Gunakan pembalut yang steril
• Lakukam pemeriksaan speculum → diagnosis
• Persiapan rujukan
Penangaanan konservatif
• Bedrest
• Ukur suhu, nadi&DJJ setiap 4 jam
• Pemeriksaan sel darah putoh
• Batasi pemeriksaan vagina (tidak dilakukaan)
• Pemeriksaan USG untuk menilai volume cairan, posisi tali pusat

Pengelolaan Aktif
• KPD umur kehamilan 20 -28 minggu dan > 37 minggu
• Ada tanda infeksi
• Ada tanda persalinan
• Gawat janin
Penyulit
• Infeksi
• Kematian janin

Penatalaksanaan
 Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin
 Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD ke RS dan melahirkan bayi yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko infeksi intrauterin
 Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya pemberian antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan dalam), tokolisis, pematangan paru, amnioinfusi, epitelisasi (vit C dan trace element, masih kontroversi), fetal and maternal monitoring. Tindakan aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio caesarea (SC) atau pun partus pervaginam
 Dalam penetapan langkah penatalaksanaan tindakan yang dilakukan apakah langkah konservatif ataukah aktif, sebaiknya perlu mempertimbangkan usia kehamilan, kondisi ibu dan janin, fasilitas perawatan intensif, kondisi, waktu dan tempat perawatan, fasilitas/kemampuan monitoring, kondisi/status imunologi ibu dan kemampuan finansial keluarga.
 Untuk usia kehamilan <37 minggu dilakukan penanganan konservatif dengan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan matur.  Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan pemberian profilaksis streptokokkus grup B. Untuk kehamilan 34-36 minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm  Untuk usia kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif/expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur (maka perlu dilakukan tes pematangan paru), profilaksis streptokokkus grup B, pemberian kortikosteroid (belum ada konsensus namun direkomendasikan oleh para ahli), pemberian antibiotik selama fase laten.  Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap) lakukan tindakan konservatif, pemberian profilaksis streptokokkus grup B, single-coursekortikosteroid, tokolisis (belum ada konsensus) dan pemberian antibiotik selama fase laten (jika tidak ada kontraindikasi)  Untuk non viable preterm (usia kehamilan <24 minggu), lakukan koseling pasien dan keluarga, lakukan tindakan konservatif atau induksi persalinan, tidak direkomendasikan profilaksis streptokokkus grup B dan kortikosteroid, pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena belum ada data untuk pemberian yang lama)  Rekomendasi klinik untuk PROM, yaitu pemberian antibiotik karena periode fase laten yang panjang, kortikosteroid harus diberikan antara 24-32 minggu (untuk mencegah terjadinya resiko perdarahan intraventrikuler, respiratory distress syndrome dan necrotizing examinations),tidak boleh dilakukan digital cervical examinations jadi pilihannya adalah dengan spekulum, tokolisis untuk jangka waktu yang lama tidak diindikasikan sedangkan untuk jangka pendek dapat dipertimbangkan untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid, antibiotik dan transportasi maternal, pemberian kortikosteroid setelah 34 minggu dan pemberian multiple course tidak direkomendasikan  Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu deksametason 2×6 mg (2 hari) atau betametason 1×12 mg (2 hari)  Agentokolisis yaitu B2 agonis (terbutalin, ritodrine), calsium antagonis (nifedipine), prostaglandin sintase inhibitor (indometasin), magnesium sulfat, oksitosin antagonis (atosiban)  Tindakan epitelisasi masih kotroversial, walaupun vitamin C dan trace element terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah terutama dalam metabolisme kolagen untuk maintenance integritas membran korio-amniotik, namun tidak terbukti menimbulkan epitelisasi lagi setelah terjadi PROM  Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda chorioamnionitis, terdapat tanda-tanda kompresi tali pusat/janin (fetal distress) dan pertimbangan antara usia kehamilan, lamanya ketuban pecah dan resiko menunda persalinan  KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi, berikan antibiotik eritromisin 3×250 mg, amoksisillin 3×500 mg dan kortikosteroid  KPD pada kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah >6 jam) berikan ampisillin 2×1 gr IV dan penisillin G 4×2 juta IU, jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC
 KPD dengan infeksi (kehamilan <37> 37 minggu), berikan antibiotik ampisillin 4×2 gr IV, gentamisin 5 mg/KgBB, jika serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang lakukan SC




BAB III
KESIMPULAN
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif
Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu :
1. Infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ;
2. Kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru.

0 komentar

Poskan Komentar